Lapang
Mungkin ada orang yang merasa terganggu dengan kehadiran kita, dengan sikap kita. Entah kamu sadar atau tidak. Saat kamu merasa bahwa kamu sedang tidak mengganggu siapa pun sama sekali, bahkan niatan itu pun tidak pernah terlintas, lalu tetap akan ada mungkin yang merasa bahwa dirinya terganggu dengan dirimu. Akan selalu ada yang tidak menyukaimu. Lantas apakah kita akan memaksa semua orang untuk suka dengan kita?
Memaafkan, apa definisi meminta maaf dan memaafkan menurutmu?
Apakah maaf dan memaafkan hanya menjadi suatu formalitas idealisme saja?
Bagi saya, saat kita sudah meminta maaf berarti bahwa, kita sudah menyadari kesalahan kita dan/atau telah mengambil makna dari permasalahan yang ada, benar atau salah, tujuannya menyelesaikan masalah.
Lalu memaafkan, bagi saya memaafkan tandanya kita sudah berdamai dengan hati sendiri, mencoba memperbaiki dan sudah melapangkan hati untuk segala yang terjadi.
Setiap luka bisa sembuh, namun untuk alasan luka itu ada, akan selalu ada yang mengingatnya.
Bukankah banyak sekali dalil mengenai meminta maaf dan memaafkan?
Salah satunya dalam surat Asy-Syuraa Ayat 43 "Tetapi barangsiapa bersabar dan memaafkan, sungguh yang demikian itu termasuk perbuatan yang mulia."
Hati saya belum luas, namun setiap mengingat kalimat - kalimat Allah saya menyadari bahwa kita pun senantiasa berbuat kesalahan, Allah menutupi aib kita dan memaafkan setiap hambanya yang memohon ampunan.
Hati saya pun masih merasakan sakit terhadap hal - hal yang tidak terdefinisikan (soal hati), hal - hal subjektif saya, yang sulit dimengerti bahkan oleh pikiran sendiri. Sesensitif itukah benda yang bernama hati?
Ketika saya memandangnya hanya dari sudut perasaan sendiri, maka saya merasa menjadi satu - satunya yang tersakiti. Saya merasa, persepsi sayalah yang paling benar. Egoisme mengendalikan saya.
Kesalahan besar ketika saya memandang hanya dari satu sisi. Bukankah hanya Allah yang paling benar?
Ketika saya mencoba memandang dari sisi - sisi yang lain, mungkin bukan hanya saya satu - satunya. Masih ada hati - hati lain yang mungkin merasakan seperti yang saya rasakan atau lebih kecewa dari saya. Mencoba memosisikan diri saya pada perasaan - perasaan yang lain. Menerima persepsi orang yang berbeda. Mencoba memikirkan kemungkinan - kemungkinan yang lain, melebarkan ruang dan menjebol batasan. Open mind.
Bukankah kita tidak ada yang menginginkan sakit terus menerus?
Lantas apa usaha kita untuk mengobati hati sendiri? Maka memaafkan dan/atau meminta maaf lebih baik. Selalu ada nilai yang berharga yang bisa menempa kita dari rasa kecewa. Ambil saja positifnya.
Hidup itu kita yang pilih. Bahagia atau tidak kita sendiri Tuannya.
Saya jadi teringat Dosen sekaligus Direktur Kampus saya sering mengulang kalimat "Letakkanlah urusan dunia ditangan, jangan letakkan di hati..."
Apa artinya?
Segala permasalahanmu, rasa sakitmu, urusan duniamu jangan diletakkan di dalam hati. Sulit untuk keluar, yang ada hanya menghambatmu dalam beribadah.
Segala permasalahanmu, rasa sakitmu, biarkan berada di tanganmu, datang lalu lepaskan karena sejatinya tangan tidak selalu menggenggam.
Serahkan segala ikhtiar pada Allah. Pikirkan apa yang perlu dipikirkan.
Bukankah memang tidak semua orang menyukai kita?
#SelfReminder
Let's spread kindness!
💗anitalidyap
Memaafkan, apa definisi meminta maaf dan memaafkan menurutmu?
Apakah maaf dan memaafkan hanya menjadi suatu formalitas idealisme saja?
Bagi saya, saat kita sudah meminta maaf berarti bahwa, kita sudah menyadari kesalahan kita dan/atau telah mengambil makna dari permasalahan yang ada, benar atau salah, tujuannya menyelesaikan masalah.
Lalu memaafkan, bagi saya memaafkan tandanya kita sudah berdamai dengan hati sendiri, mencoba memperbaiki dan sudah melapangkan hati untuk segala yang terjadi.
Setiap luka bisa sembuh, namun untuk alasan luka itu ada, akan selalu ada yang mengingatnya.
Bukankah banyak sekali dalil mengenai meminta maaf dan memaafkan?
Salah satunya dalam surat Asy-Syuraa Ayat 43 "Tetapi barangsiapa bersabar dan memaafkan, sungguh yang demikian itu termasuk perbuatan yang mulia."
Hati saya pun masih merasakan sakit terhadap hal - hal yang tidak terdefinisikan (soal hati), hal - hal subjektif saya, yang sulit dimengerti bahkan oleh pikiran sendiri. Sesensitif itukah benda yang bernama hati?
Ketika saya memandangnya hanya dari sudut perasaan sendiri, maka saya merasa menjadi satu - satunya yang tersakiti. Saya merasa, persepsi sayalah yang paling benar. Egoisme mengendalikan saya.
Kesalahan besar ketika saya memandang hanya dari satu sisi. Bukankah hanya Allah yang paling benar?
Ketika saya mencoba memandang dari sisi - sisi yang lain, mungkin bukan hanya saya satu - satunya. Masih ada hati - hati lain yang mungkin merasakan seperti yang saya rasakan atau lebih kecewa dari saya. Mencoba memosisikan diri saya pada perasaan - perasaan yang lain. Menerima persepsi orang yang berbeda. Mencoba memikirkan kemungkinan - kemungkinan yang lain, melebarkan ruang dan menjebol batasan. Open mind.
Bukankah kita tidak ada yang menginginkan sakit terus menerus?
Lantas apa usaha kita untuk mengobati hati sendiri? Maka memaafkan dan/atau meminta maaf lebih baik. Selalu ada nilai yang berharga yang bisa menempa kita dari rasa kecewa. Ambil saja positifnya.
Hidup itu kita yang pilih. Bahagia atau tidak kita sendiri Tuannya.
Saya jadi teringat Dosen sekaligus Direktur Kampus saya sering mengulang kalimat "Letakkanlah urusan dunia ditangan, jangan letakkan di hati..."
Apa artinya?
Segala permasalahanmu, rasa sakitmu, urusan duniamu jangan diletakkan di dalam hati. Sulit untuk keluar, yang ada hanya menghambatmu dalam beribadah.
Segala permasalahanmu, rasa sakitmu, biarkan berada di tanganmu, datang lalu lepaskan karena sejatinya tangan tidak selalu menggenggam.
Serahkan segala ikhtiar pada Allah. Pikirkan apa yang perlu dipikirkan.
Bukankah memang tidak semua orang menyukai kita?
#SelfReminder
Let's spread kindness!
💗anitalidyap

Komentar
Posting Komentar